HARTA, TAHTA, WANITA

Reading Time: 6 menit

HARTA, TAHTA, WANITA Masih relevankah slogan yang biasa tersemat pada para pria; harta, tahta dan wanita? Pria dan Wanita perlu untuk mengetahui hal ini. Mengapa? Sifat dasar manusia masih sama sejak awal terbentuknya kecerdasan manusia. Otak reptil manusia tidak pudar begitu manusia mengembangkan sisi kecerdasannya. Dari Fight (berkelahi), Freeze (bertahan), Flight (lari), Fuck (bercinta), Food (makan) menjadi dasar dari sistem pertahanan manusia untuk tetap dapat hidup. Namun tentu hidup bukan hanya soal bertahan, namun juga soal menikmati.

HARTA, TAHTA, WANITA

Masih Relevankah?

Mari kita bahas bagaimana otak reptil manusia bergantung kepada harta, tahta, wanita, dan bagaimana otak kecerdasan manusia berperan dalam menyeimbangkan dan memenuhi ketiga aspek tersebut. Kita akan bahas dari 2 sisi koin, yaitu pria dan wanita, bagaimana sudut pandang masing-masing gender melihat dan mengolah ketiga aspek tersebut.

HARTA

HARTA adalah hal utama dalam kehidupan manusia. Bukan soal seberapa banyak uang, seberapa banyak barang sekunder atau mewah yang dimiliki, namun soal supply untuk bertahan dan menikmati hidup.

⚢Dari sisi wanita: Ketika pria mulai memutuskan untuk mengajak seorang wanita terikat dalam sebuah pernikahan, wanita lah yang memiliki peran untuk melakukan cek dan re-check awal dari sisi pria. Hal ini kerap membuat wanita kecendurangan untuk jatuh dalam image seorang wanita matre atau materialis. Dalam praktiknya, sebenarnya wanita hanya mempertimbangkan bagaimana sang wanita dapat berperan secara maksimal dalam sebuah rumah tangga. Wanita nantinya ‘kan’ harus dapat menyiapkan makanan di meja, membiayai pertumbuhan anak-anak kelak dari segi moral, fisik, mental dan sebagainya. Sehingga secara naluriah, wanita akan melihat bagaimana seorang pria dapat mengatur dan menghasilkan harta yang ‘layak’ kedalam hubungan mereka.

Ilustrasi: wanita menyiapkan rumah yang baik dan layak untuk prianya.

⚣Dari sisi pria: Yang banyak tidak disadari oleh pria adalah, ‘keseksian’ pria tidak terletak pada penampilan tubuh mereka. Ya, memang wanita juga memiliki kecenderungan menilai pria pada tatapan pertama. Namun wanita tidak pandai dalam hal 5 indera, melainkan lebih cenderung ke wilayah ‘rasa’. Pada akhirnya, wanita akan memiliki insting untuk melihat apakah pria tersebut menarik atau tidak, bukan berdasarkan visual semata, namun lebih kearah seberapa matang pria tersebut dapat menjadi ‘pemimpin’ dalam hubungan mereka kelak. Disinilah pria membutuhkan skill untuk mengatur dan menghasilkan harta yang ‘layak’ bagi hubungan mereka.

Kesimpulan tentang harta: Memang tidak semua wanita menitik-beratkan harta kepada sang pria. Banyak wanita-wanita yang memiliki prinsip kuat untuk tidak dihidupi dari harta yang dihasilkan sang pria. Tentu pemikiran tersebut malah ‘lebih berbahaya’ dan lebih mengharuskan pria untuk lebih cerdas dalam mengatur dan menghasilkan harta dari sang wanita. Wanita tidak harus pandai untuk menghasilkan harta, namun wajib untuk dapat mengelola harta secara ideal. Sementara pria harus cerdik dan lihai dalam mengolah dan menghasilkan harta yang ‘layak’. *Layak adalah standar masing-masing hubungan secara internal.

TAHTA

TAHTA adalah aspek penting lainnya yang berhubungan dengan harta. Hidup ini penuh dengan aturan yang berlaku. Mengapa? Ya, karena aspek ‘acak’ dan ‘bebas’ manusia itu sendiri. Ada sebuah cerita dimana sekelompok anak muda protes keras terhadap aturan sebuah negara. Mereka lalu memutuskan untuk pergi ke hutan dan hidup menyendiri jauh dari aturan-aturan yang menurut mereka tidak masuk akal untuk diterapkan dalam kehidupan manusia yang seharusnya ‘bebas’. Seketika mereka sampai kehutan, malam pertama mereka bersuka ria, memasak di api unggun, bernyanyi-nyanyi riang merayakan terbebasnya mereka dari aturan. Ketika tengah malam mulai menghampiri, salah satu anggota kelompok tersebut mengatakan, “Besok pagi terserah kita mau berbuat apa dan mau kemana, hanya satu yang harus kalian ingat, jangan sampai tidak ada kabar dan segera kembali ke tenda ini pada saat hari mulai gelap.” Sadarkah Anda? Orang tersebut baru saja membuat peraturannya yang pertama: kembali ke tenda saat hari mulai gelap.

Hari pertama tidak ada masalah, semua mengikuti aturan sederhana yang dibuat oleh salah satu anggota tersebut. Hingga suatu hari, ada seorang anggota yang ‘melanggar’ aturan tersebut. “Saya tidak mungkin hanya memiliki waktu di saat matahari bersinar untuk dapat mengumpulkan makanan saya setiap hari! Saya harus memiliki waktu lebih dari itu untuk mengumpulkan makanan agar tidak harus setiap hari keluar ‘bekerja’ mencari makanan!” Tentu gagasan ini dipertimbangkan oleh kelompok ‘bebas’ ini. Beberapa setuju, beberapa tidak setuju. Mereka lalu memutuskan, bahwa harus ada orang yang bertanggung-jawab dan cukup bijaksana untuk dapat membuat aturan-aturan yang WAJIB di patuhi semua anggota. Disinilah TAHTA mulai dibutuhkan.

Tahta tidak semerta-merta dibutuhkan untuk agar seseorang mendapatkan fasilitas spesial ketika menduduki tahta tersebut. Namun pada dasarnya, tahta dibutuhkan untuk mengawasi jalannya sebuah aturan untuk kalangan banyak. Dan bagi siapa yang memegang tahta, mereka dapat membuat, mengatur, mengganti aturan sesuai dengan kepentingan kelompok mereka masing-masing. Tahukah Anda mengapa ada kubu-kubu dalam sebuah pemilihan presiden? Ya, karena cara sebuah kelompok dan lainnya ‘berbeda’ dalam hal bertahan hidup dan menikmati hidup.

“Tahta bukan untuk semata mendapatkan fasilitas lebih, namun didapat dari mindset ‘melayani’ dengan memastikan aturan-aturan berjalan sesuai.”

⚢ Dari sisi wanita: Sebagian besar wanita memang seperti tidak membutuhkan tahta. But hey, minimal wanita perlu tahta seorang ratu bukan? Tahta ratu juga tidak kalah pentingnya dengan tahta seorang raja. Tahta ratu sangat mempengaruhi kuat tidaknya tahta sang raja kelak. Inilah yang menjadi perdebatan ketika seorang raja mulai mempertimbangkan untuk memiliki lebih dari 1 ratu dalam kerajaan mereka, atau POLIGAMI! Dan ‘pun’ ketika keputusan raja dapat terlaksana dengan memiliki lebih dari 1 ratu, perebutan posisi tahta ratu tertinggipun tidak akan terelakkan dalam hubungan tersebut.

Disisi lain, sang ratu atau wanita, akan lebih mudah menjalankan perannya ketika tahta sang raja lebih luas dan besar dalam sebuah teritorial daerah atau kerajaan. Disini mengharuskan sang raja untuk mendapatkan tahta yang lebih dari sebelumnya, untuk mempermudah mengatur dan menghasilkan harta. Lihatlah bagaimana sang ratu lebih termahsyur dan berwibawa ketika tahta sang raja mengalami kenaikan. Tentu ternyata tahta bukan hanya milik sang raja atau pria, namun juga dibutuhkan oleh para wanita baik secara langsung maupun tidak langsung.

Queen Victoria & Prince Albert

⚣ Dari sisi pria: Hanya dengan beberapa poin diatas saja, tentu sudah dapat dimengerti dan disepakati bahwa pria memang membutuhkan tahta. Lebih kompleks dari itu, tahta penuh ketidak-abadian dan penuh kesukaran. Untuk mendapatkannya tidak mudah, untuk mempertahankannya tidak mudah dan untuk meninggalkan warisan baik setelah tahta itu berakhir, bisa dikatakan hampir mustahil. Sangat susah. Seorang pemilik tahta harus lebih dahulu dapat menguasai apa yang baik dan buruk tentang dirinya, barulah dapat menduduki sebuah tahta. Permainan politik pun tidak dapat terpisah dari kehidupan si pemegang tahta. Ketika seseorang memiliki tahta, dia tidak lagi milik dirinya sendiri dan kelompok, namun milik kalangan luas. Seseorang harus terlebih dahulu ahli dalam kebijaksanaan secara spiritual untuk dapat menduduki tahta dengan sempurna. Itulah mengapa, setiap raja membutuhkan penasihat spiritual, penyihir-penyihir dalam kerajaan mereka.

Kesimpulan: Baik pria maupun wanita membutuhkan tahta. Dan, tahta sang ratu rupanya sangat berperan kepada tahta sang raja. “Untuk menjadi raja, seseorang membutuhkan sebuah kerajaan, bukan seorang ratu. Dan raja yang baik yang akan mengundang ratu yang baik kedalam kerajaan yang baik.” Catatan tambahan: kerajaan tidak harus sesuatu yang besar. Keluarga kecil Anda adalah kerajaan Anda dimana Anda menjadi sang raja atau ratunya.

WANITA

WANITA. Disinilah — saya rasa — muncul istilah bahwa seorang pria tidak lepas dari harta, tahta dan wanita. Kata-kata “harta, tahta dan wanita” diucapkan tidak dari sisi positif namun cenderung sebagai komplain terhadap ambisi seorang pria dalam hidupnya. Ya, memang seorang pria membutuhkan sebuah tahta kerajaan, membutuhkan harta untuk menghidupi (memberi hidup yang sebenarnya) kepada kerajaannya, dan membutuhkan wanita. Lalu, mengapa seorang pria membutuhkan wanita dalam hidupnya?

Sebelumnya, tentu Anda memiliki pola pandang berbeda segera setelah membaca judul harta, tahta dan wanita. Seolah pria tidak dapat lepas dari konotasi ‘hidung belang’. Seolah naluri alamiah FUCK (bercinta) sangat besar seperti hewan yang bercinta tanpa kenal tempat, waktu dan tanpa memilih-milih pasangan yang tepat. Benarkah demikian? Tahukah Anda, bahwa pria memiliki kecenderungan menggunakan pikirannya ketimbang hatinya? Dan wanita cenderung menggunakan hatinya (perasaan) ketimbang logika? Pernahkah Anda bertanya mengapa wanita begitu ahli mengingat masa lalu, entah tanggal-tanggal spesial, baju yang dikenakan saat pertama bertemu Anda, atau momen-momen yang tidak pernah pria ingat namun membekas keras dibenak sang wanita?

“Pria memiliki kecenderungan kepada logika. Wanita memiliki kecendurangan kepada rasa.” – Elfuego

Salah satu fungsi dari emosi (perasaan) adalah sebagai ‘tombol save’ atau simpan, seperti di perangkat komputer Anda ketika akan menyimpan sebuah dokumen, itulah emosi. Seseorang dapat memiliki phobia ketika ada suatu kejadian yang dibungkus dengan emosi yang cukup. Untuk itulah mengapa wanita sangat mudah mengingat sebuah kejadian atau hal-hal yang kecil sekalipun. Wanita sangat ahli dan hidup dari emosi, baik positif maupun negatif. Pria tidak memiliki emosi lebih besar dan tidak menggunakan emosi sesering wanita menggunakannya. Disinilah pria membutuhkan peran wanita.

“Jika Anda ingin membentuk sebuah usaha, tanyalah kepada wanita. Wanita memiliki sifat dasar menghidupkan. Mereka yang mengandung manusia. Sedangkan pria memiliki sifat dasar menghancurkan. Pria suka berperang…” – Guy Kawasaki

Pertanyaan selanjutnya, wanita mana, wanita seperti apa, dan kapan seorang pria membutuhkan wanita? Apakah benar pria tidak cukup dengan satu wanita dalam hidupnya? Jawabannya, sangat sederhana; Pria membutuhkan wanita yang dapat menenangkan dan menjaga sisi positif dari setiap emosi-emosi pria, setiap waktu. Dan ketika wanita yang mampu melakukan itu telah hadir, pria hanya memerlukan satu ratu disampingnya.

Bagaimana jika Anda belum menemukan wanita tersebut? Kemungkinan karena Anda belum memiliki kerajaan yang layak untuk sang ratu. Ratu Anda akan datang ketika kerajaan dan Anda telah siap.

“Ratu Anda akan datang ketika kerajaan dan Anda telah siap.” – Elfuego

Bagaimana jika Anda telah terlanjur berkomitmen dengan wanita yang tidak sesuai? Apakah dapat menjadikan alasan Anda boleh mencari wanita lainnya? Ada 2 cara sebelum Anda memutuskan untuk ‘mencari’ ratu lainnya: pertama, jika Anda memang raja yang baik dan kuat, Anda dapat merubah wanita Anda menjadi baik. Kedua, fokuslah pada kerajaan dan diri Anda sendiri. Ingat, Anda membutuhkan sebuah kerajaan untuk menjadi dan bertahan menjadi raja, bukan seorang ratu. Sehingga pemikiran butuh tidaknya wanita, menjadi tidak relevan.

“Dua ayam jago tidak dapat disatukan dalam satu kandang. Begitu juga mindset memimpin bagai raja, tidak dapat berada pada satu atap rumah tangga.” – Elfuego, pada seminar SHINTA (Sihir Cinta)

Anda seorang wanita, tampaknya pria Anda tidak menghargai Anda dan tetap mencari wanita lainnya, bagaimana Anda harus bersikap? Sederhana, pria Anda bukan tidak menghargai Anda, namun pria Anda membutuhkan tahta-rajanya yang mungkin sedang Anda coba untuk duduki. Tetaplah duduk pada tahta ratu Anda dengan anggun, elegan dan penuh kuasa! Raja Anda akan tetap bersama Anda.

Kesimpulan: pria tidak serta merta membutuhkan wanita. Pria membutuhkan kerajaan. Seorang pria akan terlihat menarik ketika memiliki kerajaan, wanita akan terlihat menarik ketika memiliki keanggunan. Dengan tetap pada porsi dan peran masing-masing, kerajaan akan terhindar jauh dari kekacauan (chaos) yang akan mengakibatkan runtuhnya sebuah kerajaan.

Dalam sebuah hubungan, Anda membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata maupun bahasa tubuh untuk dapat bekerjasama secara sempurna. Pikiran Anda harus bersih, mengedepankan rasa cinta positif yang murni. Dengan adanya buruk-sangka terhadap pasangan Anda akan hanya menyakiti diri Anda, pasangan dan bahkan seluruh kerajaan — termasuk mungkin nanti anak-anak Anda. Walaupun seorang raja dan ratu telah bersatu, tidak berarti mereka sudah menjadi satu secara fisik. Anda dan pasangan tetaplah berbeda, tetap individual. Anda tetap memiliki kehendak bebas diluar wanita maupun pria Anda. Jika sebelum Anda memiliki sebuah hubungan Anda harus benar-benar mengenali diri Anda, pada saat akhirnya Anda menjalin hubungan, Anda harus benar-benar ‘menerima’ sisi buruk dan baiknya pasangan Anda, bahkan sisi baik dan buruk hubungan Anda. Tidak ada yang benar-benar sempurna, namun kita wajib untuk tetap saling menyempurnakan.

Harta, tahta dan wanita memang masih sangat relevan dan terus akan relevan dalam kehidupan manusia. Namun jika Anda menyebutkannya secara negatif kepada seseorang, disaat yang serba modern ini, sudah sangat tidak relevan.

“Bukan soal kata—kata yang terucap, namun soal bagaimana kata tersebut diucapkan, dan siapa yang mengucapkannya.” – Rheza Elfuego, diambil dari pepatah kuno soal mantra.

Pin It on Pinterest