Mengapa Kita Selalu Gagal Dalam Hidup

Reading Time: 5 menit

Mengapa Kita Selalu Gagal Dalam Hidup Hmm…ingin jawaban sederhana? Atau jawaban rumit? Saya bagikan jawaban rumitnya terlebih dahulu mengapa kita selalu gagal dalam hidup. Dalam sebuah cerita…

Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh seorang teman saya bernama Toni. Saya beruntung dapat masuk ke jurusan IPA pada masa SMA dimana 90% teman kelas saya adalah para NERD. Kutu buku. Ya, Anda tahu sendiri kontrasnya anak IPA berbanding dengan anak IPS atau Bahasa.

Setiap kali guru tidak masuk salah satu jam mata pelajaran, semua teman sekelas saya masih duduk diam membaca buku pelajaran mereka dibangkunya masing-masing. Sedangkan, saya berdiri berkeliling kelas untuk memperlihatkan trik sulap kartu kepada teman-teman saya. Ya, walaupun saya anak IPA, namun saya lebih banyak memiliki teman yang akhirnya masuk ke kelas IPS dan Bahasa. Hanya 2  atau 3 teman ‘nakal’ saya yang akhirnya juga masuk kelas IPA.

Suatu hari, saat guru tidak hadir, saya kembali berdiri dengan semangat menggenggam kartu saya seraya ingin kembali menunjukkan trik sulap baru saya hari itu. Tiba-tiba, pintu terdobrak oleh suara kakak kelas yang kami kenal sebagai ‘preman’ sekolah pada saat itu.

“Siapa yang namanya Toni disini?!” Bentakan cukup keras keluar dari salah satu kakak kelas yang mendobrak masuk ke kelas kami. Suasana sunyi senyap, tidak ada perlawanan apapun dari teman-teman kelas saya siang itu.

Terlihat satu orang dari kerumunan kakak kelas menunjuk ke arah pojok kelas, menunjuk dimana Toni duduk tertunduk diam. Segera, seorang yang nampak sebagai pemimpin kelompok tersebut masuk dan menyeret Toni keluar dari kelas. Tidak ada yang berani membela, bahkan saya yang adalah ketua kelas berbadan cukup besar dan tinggi di kelas itu pun seolah kehilangan tenaga untuk bangkit memberikan pembelaan. Saya tidak mengetahui asal usul masalah dan saya juga tidak terlalu kenal dengan Toni ini. Yang saya tahu di hari berikutnya, Toni tidak pernah kembali masuk sekolah lagi, selamanya.

Siapa Toni ini? Apa masalahnya? Kenapa sampai sefatal ini? Masalah ‘kenakalan remaja’ haruskah sampai membuat Toni keluar dari sekolah? Saya mulai mencari tahu tentang Toni dan kakak kelas yang menyeretnya keluar kelas. Yang saya tahu dihari berikutnya, ternyata kakak kelas itu juga tidak pernah masuk sekolah setelah tragedi hari itu.

Sampai suatu hari seorang teman saya mendapatkan kabar gosip, bahwa Toni adalah korban bulan-bulanan pemalakan sekelompok preman dari luar sekolah, dan di hari itu, Toni dihajar habis-habisan karena lupa menyetor uang bulanannya. Tidak ada yang benar-benar tau apa kabar dari Toni. Namun, saya mendapatkan informasi yang cukup menyayat hati beberapa tahun kemudian.

Toni, adalah seorang anak yatim yang tinggal bersama ibu dan kakaknya yang seorang tuna netra. Setiap hari dia harus berjualan gorengan ke beberapa warung didepan sekolah. Maka dari itu dia banyak mengalami pemalakan dari preman sekitar sekolah. Ibunya sudah cukup berumur dan hanya bekerja sebagai tukang cuci baju tetangga-tetangganya. Dia bekerja cukup kuat untuk dapat membiayai biaya sekolahnya dan berharap suatu saat dapat menjadi dokter spesialis mata untuk membantu para tuna netra lainnya. Namun nahas, hari itu seperti mengakhiri segala mimpi dan motivasi hidupnya.

Beberap tahun setelah kelulusan sekolah, saya sudah mulai melupakan tragedi itu dan terbenam kepada kehidupan ‘dewasa’ untuk mulai mengelola perusahaan hotel dan restaurant keluarga saya. Tidak ada sepotong informasipun juga keluar dari teman-teman saya. Sampai suatu hari, di tengah terik siang ditengah kantor restaurant saya yang sibuk, waitres saya datang mengetuk pintu.

“Pak Rheza, ada seseorang ingin bertemu menawarkan sample contoh minuman yang kemarin bapak setujui, apa bapak ada waktu?” Ditengah kesibukan siang itu, saya mengangguk memberi ijin orang tersebut untuk masuk.

“Selamat siang Rheza, ketua kelas IPA, tukang sulap sekolah” Terhenyak sejenak saya melihat tubuh tegap tinggi, dengan rambut hitam agak ikal menggunakan kacamata yang jelas sangat saya kenal.

“Kamu…kenal saya? Sepertinya pernah lihat dimana ya?” Tanya saya meyakinkan diri.

Sambil tersenyum dan mengarahkan jabat tangannya kearah saya,”Toni Za, aku teman sekelasmu dulu di sekolah. Apa kabar?” Sontak saya kaget dan kagum bahwa ternyata anak yang selama ini pernah menghantui rasa penasaran saya, sekarang berdiri tepat didepan saya, dikantor saya ini!

“Toni! Kamu yang di sekolah waktu itu?! Kenapa bisa disini sekarang?” Tanya saya meracau sembari memperhatikan guratan-guratan bekas luka diwajahnya yang menjadi saksi bisu atas perjuangan yang dilaluinya.

Singkat cerita, siang itu berlanjut sangat cepat berganti sore. Dari sesi formal menawarkan produk minuman menjadi sesi reuni berbagi kisah tentang perjuangan luarbiasa Toni sejak tragedi hari itu.

“Ya, ibu saya sudah tidak ada. Namun kakak masih ada sekarang tinggal bersama saya, istri dan anak-anak saya dirumah. Hahaha…” Jawabnya enteng namun tegas. Jelas dia telah melalui berbagai macam pelajaran hidup hingga menjadi seperti saat ini. Kartu nama yang dia berikan ke saya berbunyi: ‘Direktur Utama’ sebuah distributor minuman terbesar di pulau Bali yang selama ini menjadi incaran saya untuk dapat bekerjasama.

“Tapi Ton, bagaimana dengan cita-cita dokter mu?” Tanya saya penasaran.

“Hah? Kok kamu tau? Hahaha. Ya…sejak saya putus sekolah tentu cita-cita menjadi penolong para tuna netra seolah pupus Za. Tapi, sekarang saya membiayai beberapa yayasan tuna netra besar di Bali untuk membantu mereka melakukan penyembuhan terhadap penyakit mata yang dapat disembuhkan. Asik lho za, ayo ikut kapan-kapan memberi dan berbagi.”

Wow. Tidak ada kata yang dapat terucap lagi dari diri saya mendengar betapa perjuangan demi perjuangan, keringat demi keringat bahkan darah demi darah telah dia lalui untuk dapat mencapai cita-citanya saat ini. Beberapa tahun lalu saya yang merasa bahwa tidak akan ada lagi masa depan bagi Toni, sekarang terasa seperti sebuah hembusan udara segar bahwa tidak ada yang namanya kegagalan hidup, selama kita masih terus berjuang.

Tidak hanya itu, ditengah segala yang telah menimpanya, dia masih tetap fokus pada tujuan utamanya, yaitu menjadi penolong bagi yang membutuhkan. Dan dia melakukannya sekarang dengan sangat amat baik. Bisa saja dia dendam terhadap hidup, namun dia lebih memilih untuk menghargai hidup dalam perjuangan.

“Tidak ada yang namanya kegagalan hidup, selama kita masih terus berjuang.”

Smart people, perjuangan hidup itu, seperti puzzle yang harus kita selesaikan. Kita hanya akan gagal, ketika kita berhenti mencoba memasang dan mencari tiap potongan puzzle yang SUDAH PASTI akan terpasang semua dengan sempurna. Mungkin di beberapa potongan puzzle sangat mudah untuk dicocokan dengan puzzle lainnya, sehingga menampilkan sedikit gambaran yang muncul dipojokan cerita hidup kita. Terkadang kita sudah puas atau bahkan menyerah sebelum semua puzzle tersusun sempurna. Terkadang juga kita terlalu memaksakan beberapa potongan untuk dapat cocok dengan potongan lainnya sehingga terkadang merusak potongan-potongan tersebut.

mengapa kita selalu gagal dalam hidup

Sama seperti kisah Toni, Toni mengikuti bentuk puzzle yang ada, sekalipun itu bukan kemauannya, namun itu yang paling cocok dengan dirinya saat itu. Dia terus berjuang berusaha mencari potongan-potongan yang hilang, hingga sedikit demi sedikit membentuk gambaran yang semakin jelas atas realita yang dia impikan.

Ketika Anda membuka artikel ini, mungkin Anda sedang berusaha mencari cara mencocokkan potongan-potongan puzzle diri Anda. Namun sama seperti tutorial puzzle lainnya, tidak ada cara yang paling benar selain Anda sendiri yang mencoba menyatukan semua puzzle potongan demi potongan. Kegagalan, adalah proses yang dibutuhkan untuk menemukan potongan puzzle kehidupan yang cocok untuk realita yang Anda impikan.

Sekarang yang bisa Anda lakukan, adalah melihat kembali, apa hasil gambaran akhir puzzle kehidupan yang Anda inginkan?

Berikutnya yang harus Anda lakukan segera, adalah menerima dan menikmati segala proses pengumpulan potongan puzzle hingga menjadi gambaran realita penuh. Realita yang sesuai dengan apa yang menjadi keinginan Anda tadi.

Jika Anda rasa, detik ini tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan, mungkin Anda hanya melihat pojokan puzzle yang belum jadi sempurna. Atau lebih parah, Anda menggonta-ganti papan puzzle dengan gambar puzzle yang lainnya tanpa menyelesaikan puzzle pertama. Disitu Anda bukan gagal, namun Anda BELUM berhasil menyatukan semua potongan, namun sudah mengganti sebuah gambar besar atas impian Anda.

Dalam perjalanannya, setiap kegagalan itu wajar dan selalu ada. Puzzle itu adalah hidup. Disitulah keseruannya. Semua orang memiliki puzzle mereka masing-masing. Beberapa orang berbagi gambaran impian atas puzzle mereka sehingga mereka dapat bekerja sama mewujudkannya bersama.

Ketika Anda melihat orang lain ‘berhasil’, jangan jadikan puzzle mereka acuan terhadap puzzle hidup Anda. Karena puzzle masing-masing kita berbeda. Kita akan semakin merasa gagal, saat kita membandingkan keberhasilan orang lain dengan keberhasilan kita. Kita semua berbeda, dan kita memiliki kisah kesuksesan kita masing-masing.

Hari ini, sampai sejauh apa realitas gambaran hidup Anda terbentuk? Semua ada ditangan Anda, dimulai dengan komitmen bulat untuk memperjuangkannya.

Oh ya, itu jawaban rumitnya mengapa kita selalu gagal dalam hidup. Jawaban sederhananya: karena Anda belum membaca artikel ini sebelumnya. 😁

Script Rocky Balboa Motivation Speech:

“Let me tell you something you already know. The world ain’t all sunshine and rainbows. It’s a very mean and nasty place, and I don’t care how tough you are, it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain’t about how hard you hit. It’s about how hard you can get hit and keep moving forward; how much you can take and keep moving forward. That’s how winning is done! Now, if you know what you’re worth, then go out and get what you’re worth. But you gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody. Cowards do that and that ain’t you. You’re better than that! I’m always gonna love you, no matter what. No matter what happens. You’re my son and you’re my blood. You’re the best thing in my life. But until you start believing in yourself, you ain’t gonna have a life.” Sylvester Stallone, Rocky Balboa

“Biarkan saya memberi tahumu sesuatu yang sudah kamu ketahui. Dunia ini tidak semua sinar matahari dan pelangi. Ini adalah tempat yang sangat jahat dan kejam, dan saya tidak peduli seberapa keras kamu, tapi hidup tetap akan membuatmu tersungkur dan membuatmu tetap ada di sana secara permanen jika kamu membiarkannya. Kamu, saya, atau siapapun! tidak ada yang sekeras kehidupan. Tapi ini bukan tentang seberapa keras kamu memukul. Ini tentang seberapa keras kami bisa terpukul dan terus bergerak maju; berapa banyak yang dapat kamu terima dan terus bergerak maju. Begitulah cara kemenangan dilakukan! Sekarang, jika kamu tahu seberapa berharga kamu, maka keluarlah dan gapailah. Tetapi kamu harus rela menerima pukulan, dan tidak menunjuk orang lain mengatakan kamu tidak mendapatkan hasil sesuai yang kami inginkan karena dia, atau dia, atau siapa pun. Pengecut melakukan itu dan itu bukan dirimu. Kamu lebih baik dari itu! ……. Tetapi sebelum kamu mulai percaya pada dirimu sendiri, kamu tidak akan memiliki kehidupan.” ― Sylvester Stallone, Rocky Balboa


Jika Anda rasa artikel ini bermanfaat bagi Anda atau kerabat dekat Anda, klik tombol like (❤️) dibawah dan bagikan melalui akun media social Anda untuk dapat menjadi solusi bagi lainnya.

Pin It on Pinterest